Khutbah Pertama

الحَمْدُ للهَ الَّذِي وَعَدَ الْمُتَّقِينَ بِجَنَّاتٍ وَنَعِيم، وَتَوَعَّدَ الظَالِمِين بِجَهَنَّم وَعَذَابٍ أَلِيمِ، فَمَا لَهُمْ مِنْ شَافِعِينَ وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٍ. أشهَدُ أنْ لاَ إلَهَ إلا الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ . وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِك عَلىَ سَيَّدِناَ مُحمَّد وَعلىَ آلِهِ وَصَحابِتِه وَمَنْ تبِعَهُم بِإحْسَانٍ إلَى يَومٍ عَظِيْم. رَبَّنَا اغْفِرْ لنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ.

(اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ) [آل عمران: 102]

Jamaah sidang jumah yang berbahagia...

Marilah kita bersyukur kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, syukur atas segala nikmat yang diberikan kepada kita, terutama nikmat iman dan Islam. Karena hanya dengan kedua kenikmatan inilah, segala aktivitas dan kehidupan kita mempunyai nilai berarti di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, keluarga, sahabat, serta para pengikutnya sampai hari kiamat. Amin allahumma Amin.

Selanjutnya, saya mengajak kepada diri saya pribadi dan para hadirin semua, untuk bersama-sama meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa yang mampu menyelamatkan diri kita dari api neraka.

Merupakan keadilan dan kebijakan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mencipatakan surga dan neraka. Neraka dan surga adalah dua kata yang saling berlawanan. Baik secara arti maupun subtansi. Antara kedua penghuninya pun tidak bisa disamakan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan melalui firman-Nya,

(لايَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ )[الحشر: 20]

“Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni jannah, penghuni-penghuni jannah itulah orang-orang yang beruntung ” (Al-Hasyr: 20)

Neraka adalah kebalikan surga. Kalau di surga ada kenikmatan yang belum pernah terlihat oleh mata atau terdengar oleh telinga atau terlintas di hati manusia. Begitu pula di dalam nereka, berbagai macam siksaan dan kepedihan yang tak terbanyangkan. Neraka adalah negeri azab yang telah dipersiapkan oleh Allah untuk orang-orang kafir dan berbuat maksiat, durhaka terhadap Allah dan para rasul-Nya.

Ma`asyiral Muslimin Rahimakumullah….

Surga adalah negeri kenikmatan yang dipersiapkan oleh Allah untuk orang-orang beriman yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang beriman kepada apa yang diwajibkan oleh Allah untuk diimani dan melaksanakan ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya dengan ikhlas semata karena Allah dan mencontoh rasul-Nya. di dalam surga terdapat berbagai macam kenikmatan yang belum pernah terlihat oleh mata atau terdengar oleh telinga atau terlintas di hati manusia. Cukuplah kemegahan surga dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya,

(وَإِذَا رَأَيْتَ ثَمَّ رَأَيْتَ نَعِيمًا وَمُلْكًا كَبِيرًا )[الإنسان: 20]

“Dan apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. (Al-Insan: 20)

Di dalam surga berbeda-beda tingkatannya, masing-masing sesuai dengan amal shalih yang telah mereka lakukan.

Penggambaran surga yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. dan disabdakan oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, hampir tak mampu kita gambarkan dengan otak dan imajinasi kita yang terbatas ini. Betapa sulit membayangkan kenikmatan yang begitu besar. Sungguh kemampuan imajinasi kita akan terbentur pada keterbatasannya. Maha Benar Allah berfirman tentang kenikmatan surga,

(فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ )[السجدة: 17]

“Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (As Sajadah: 17)

Dalam hadits digambarkan bahwa kenikmatan surga itu belum pernah terlihat oleh mata atau terdengar oleh telinga atau terlintas di hati manusia.

Pada peristiwa Isra` dan Mi`raj Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah diberi kesempatan untuk meninjau surga dari dekat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan dalam sebuah hadits, “Jibril berjalan terus hingga tiba di Sidratul Muntaha dan ternyata Sidratul Muntaha ditutup dengan warna yang tidak aku ketahui.” kata Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. lebih lanjut, “Kemudian aku masuk ke dalam surga dan ternyata di dalamnya terdapat kubah dari mutiara dan tanahnya beraroma kesturi. (HR. Bukhari dan Muslim)

Muqatil bin Hayyan berkata, “Telah sampai keterangan kepada kami bahwa ada malaikat yang ditugaskan mendampingi Bani Adam pergi ke surga. Ia membimbing Bani Adam sampai ke ujung tempat yang disediakan. di surga, Bani Adam diberi segala sesuatu oleh Allah. Ketika Bani Adam memasukinya untuk menjumpai istri-istrinya, maka malaikat itu pun pergi.”

Kebalikan surga adalah neraka. Sesungguhnya kedahsyatan dan kengerian neraka tidaklah terbayangkan. Allah dan Rasul-Nya, telah memperingatkan dan menjelaskan bagaimana panasnya api Neraka, bagaimana golakan api Neraka, bagaimana makanan dan minuman penghuninya. Berikut gambaran singkat tentang dahsyatnya api neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala befirman,

)إِنَّهَا تَرْمِي بِشَرَرٍ كَالْقَصْرِ32 كَأَنَّهُ جِمَالَةٌ صُفْرٌ )(المرسلات:32-33)

“Sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar dan setinggi istana. Seolah-olah ia iringan unta yang kuning” (Al-Mursalat: 33)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pada hari kiamat Neraka Jahannam itu akan didatangkan dengan tujuh puluh ribu kendali, tiap-tiap kendali ditarik oleh tujuh puluh ribu malaikat.” (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Kami bersama-sama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Beliau bertanya: “Apakah kamu tahu, bunyi apakah itu? Kami menjawab: “Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya lah yang lebih tahu.” Beliau bersabda, “Ini adalah suara batu yang dilemparkan ke dalam neraka sejak tujuh puluh tahun yang lalu. Batu itu sekarang baru sampai ke dasar neraka,maka kalian mendengar suara gemuruhnya.” (HR. Muslim)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “(Panasnya) api yang kalian (Bani Adam) nyalakan di dunia ini merupakan sebagian dari tujuh puluh bagian panasnya api neraka Jahannam.” Para sahabat bertanya: “Demi Allah! Apakah itu sudah cukup wahai Rasulullah?, Beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “(Belum), sesungguhnya panasnya sebagian yang satu melebihi sebagian yang lainnya sebanyak enam puluh kali lipat.” (HR. Muslim)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Kemudian sesungguhnya kamu hai orang-orang yang sesat lagi mendustakan, benar-benar akan memakan pohon zaqqum, dan akan memenuhi perutmu dengannya. Sesudah itu kamu akan meminum air yang sangat panas. Maka kamu minum seperti unta yang sangat haus minum. Itulah hidangan untuk mereka pada hari Pembalasan.” (Al-Waqi’ah: 51-56)

Karena itu, agar tidak ada alasan bagi manusia kelak nanti di akhirat, Allah mengirimkan utusan-Nya agar menjelaskan antara jalan yang menuju surga dan neraka. Sehingga manusia mampu menjahui segala sesuatu yang bisa menelantarkannya ke dalam api neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

(فَأَنْذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّى) [الليل: 14]

“Maka Kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala” (Al-Lail: 14) Karena tidak ada bencana yang amat besar melebihi orang masuk ke neraka. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

(إِنَّهَا لَإِحْدَى الكبر35 نَذِيرًا لِلْبَشَرِ ) [المدثر: ٣٥ - ٣٦]

“Sungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar, sebagai ancaman bagi manusia.” (Al-Mudatstsir: 35-36)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari An-Nu’man bin Basyir radhiallahu’anhu berkata: “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. berkhutbah dan berkata, ’saya peringatkan kalian dari api neraka, saya peringatkan kalian dari api neraka’. Andaikata sesorang berada di pasar ia akan mendengarkan suara tersebut dari tempatku ini, dan waktu itu beliau membawa selendang yang tadinya berada di bahu kemudian jatuh di kakinya.” (Ini Menunjukkan tegasnya beliau memperingatkan hal tersebut kepada umatnya) (HR. Ahmad)

Kaum Muslimin rahimakumullah...

Bagaimana sikap para salafus shalih terhadap neraka? Para ulama adalah orang yang paling takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan,

(إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ) [فاطر: 28]

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Faathir: 28)

Walaupun kedudukan mereka tinggi dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidaklah menjadikan mereka merasa aman dari api neraka. Rasa takut mereka kepada neraka menjadikan mereka selalu menambah mendekatkan diri kepada Allah dan menjahui segala sesuatu yang bisa menjerumuskan kepada kemaksiatan. Mereka tidak hanya meninggalkan sesuatu yang jelas haram atau makruh, tetapi perkara yang belum jelas hukumnya (syubhat) bahkan mubah pun kadang ditinggalkannya. Kerena rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, adalah pangkal segala kebaikan. Sebagaiamana dikatakan oleh Abu Sulaiman Ad Darani, “Asal segala kebaikan di dunia dan di akhirat adalah takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak satu hati pun yang kosong dari rasa takut kecuali hati itu adalah hati yang rusak.”

Sebagaimana diriwayatkan Anas bin Malik Radhiallahu’anhu, bahwa “Sesungguhnya kebanyakan doa nabi Muhammad Shallallahu ‘alahi wasallam, yaitu,

رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ )[البقرة: 201]) “Wahai Rabb kami berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan jauhkan kami dari neraka” (HR. Bukhari dan Muslim)

Umar bin Khatthab pernah berkata, “Wahai sekalian manusia, andaikata ada yg menyeru dari langit, sesunguhnya kalian semua masuk surga kecuali satu orang. Saya takut satu orang itu adalah saya.”

Suatu hari Al-Hasan Al-Bashri pernah menangis, maka ditanya kepada beliau, “Apa yg membuatmu menangis wahai Abu Said?” Beliau menjawab, “Saya takut Allah Subhanahu wa Ta’ala akan melemparkan saya besok di api neraka dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memperhatikannya.”

Demikian rasa takutnya para ulama ketika mengingat siksaan api neraka. Seharusnya sikap demikian itu juga terpatri dalam diri kita. Jika kita bandingkan amalam kita dengan mereka para ulama sungguh amat jauh. Sepantasnya kita menjahui senda gurau dan kecintaan terhadap dunia yang melupakan terhadap akhirat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam sebuah khutbah: “Andaikan kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan pasti akan banyak menangis.” Anas berkata: “Mendengar yang demikian para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menutupi muka mereka sambil menangis terisak-isak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

أَعَوْذُ بِاللهِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ) [التحريم: 6]

بَارُّكَ اللهَ لِي وَلَكُمْ فِي ‹ الْقُرْآن الْعَظِيمَ ‹، وَهَّدَانَا وَإِيَّاكُمْ إِلَى صِرَاطِ مُسْتَقِيمِ ، وَنَفِّعِنَّي وَإِيَّاكُمْ بالآيات وَالذّكرَ الْحَكِيمَ . أَقَوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاِسْتَغْفَرَ اللهُ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ . فَاِسْتَغْفَرُوهُ وَتُوبُوا عَلَيه إِنَّه هوالغفور الرَّحِيمَ .

الْحَمْدُ لله رُبَّ الْعَالَمِينَ ، وَالصَّلاَةَ وَالسّلامَ عَلَى رَسُولِ اللهِ وَعَلَى آله وَصحابَتَهُ وَمِنْ ولاهَ ، أَمَا بَعْدَ : فِيَا أَيُّهَا النَّاسَ اِتَّقَوْا اللهِ ، وَحَافَظُوا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُورَ الْجمعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. قَالَ اللهِ تَعَالَى فِي مُحِّكُمْ تَنْزِيلَهُ:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ )[الجمعة: 9]

وَقَالُ أيضا: (إنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا )[الأحزاب: 56]

اللَّهُمُّ صِلِّ وَسَلْمَ وِبَارِكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدَ وَعَلَى آله وأزواجه وَذُرِّيَّتَهُ وأصحابه وَمِنْ تَبِعَهُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

اَللّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا المجاهدين في كل مكان، وَ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى أعدائهم وَ مَنْ نَصَرَهُمْ. اَللّهُمَّ أَحْصِهِمْ عَدَدًا وَاقْتُلْهُمْ بَدَدًا وَلا تُبْقِ مِنْهُمْ أَحَدًا وَاجْعَلْهُمْ غَنِيْمَةً لِلْمُسْلِمِيْنَ.

اَللّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَ اخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلمِيْنَ، وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدَّيْنَ. اللَّهُمَّ زِدْنَا وَلَا تَنْقُصْنَا وَأَكْرِمْنَا وَلَا تُهِنَّا وَأَعْطِنَا وَلَا تَحْرِمْنَا وَآثِرْنَا وَلَا تُؤْثِرْ عَلَيْنَا وَارْضَ عَنَّا وَأَرْضِنَا.

عِبَادُ اللَّهِ (إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ )[النحل: 90]

أَذَكَّرُوا اللَّه الْعَظِيمَ يَذَّكِرُكُمْ وَاُشْكُرُوهُ عَلَى نُعْمِهُ يُزَدْكُمْ وَلِذَكَرِ اللهُ أَكبرِ وَاللهَ يُعْلِمُ مَا تَصْفُونَ . واقم الصَّلاَةَ

  • Kehidupan Setelah Mati
  • Waspadai Praktek Perdukunan
  • Pengaruh Takwa Terhadap Kehidupan Seorang Muslim
  • Kehidupan Akhirat Adalah Kehidupan Yang Hakiki
  • Pengaruh Dosa dan Maksiat Bagi Kehidupan Seorang Hamba
  • Muroqobatulloh dan  Istiqomah dalam Kehidupan Muslim
  • Kehidupan Surga dan Neraka
  • Tanda-tanda hari Kiamat
  • Urgensi Tauhid dalam Mewujudkan Kebahagiaan
  • Urgensi Ikhlas dalam Meraih Kemuliaan Dunia dan Akhirat
  • Ustadz DR. Dasman, MA
  • Tawakkal, Urgensi dan Kedudukannya
  • Kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
  • Cinta Kepada Allah dan Rasul-Nya  Sebagai Pilar Keimanan

Kirim Email Anda , Untuk Update Kabar Terkini

Pria/Wanita
Negara
Email