Oleh: Ustadz Setyadi Rahman

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَ دِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَ كَفَى بِاللهِ شَهِيْدًا . أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، ذُوالْعِزَّةِ وَ الْقُوَى، وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، لاَ نَبِي َّبَعْدَهُ وَ لاَ رَسُوْلَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى نَبِـيِّنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَي آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ كُلِّ مَنِ اتَّبَعَ ِللهِ الْهُدَى.

أَمَّـا بَعْدُ فَيـَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْ بِنَفْسِيْ وَ إِيَّـاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ حَقَّ تُقَاتِهِ، لَعَـلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قال تعالى: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ )[آل عمران: 102]

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala ...

Sebagai pembuka, khatib mengajak kepada segenap kaum Muslimin untuk senantiasa memperkuat dan meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena hanya dengan ketakwaan kepada Allah seseorang dapat menghimpun segala kebaikan, takwa juga merupakan sifat dan karakter yang paling banyak disebutkan dalam Al-Qur’an. Dengan berbekal takwa seseorang memperoleh kebahagiaan, kebaikan dan keselamatan di dunia maupun akhirat, baik yang bersifat lahiriah maupun batiniah. Sebaliknya, ketakwaan juga merupakan benteng dan pelindung serta baju besi kokoh yang dapat menghalau segala bentuk keburukan, di dunia maupun akhirat, baik yang bersifat lahiriah maupun batiniah.

Ketakwaan merupakan perintah dan wasiat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dibebankan kepada segenap umat manusia untuk seluruh umat. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

(وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ( [النساء: 131]

“… dan sungguh Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang telah diberi Kitab sebelum kamu dan kepada kamu supaya kamu bertakwa kepada Allah.” (An-Nisa’: 131)

Ketakwaan merupakan inti dakwah dan seruan para nabi dan rasul, syiar orang-orang shalih dan para waliyullah, yakni orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah. Setiap nabi dan rasul mendakwahkan kalimat yang sama kepada kaumnya masing-masing. Sebagaimana pernah dilakukan Nabi Nuh kepada kaumnya: “…Mengapa kamu sekalian tidak bertakwa (kepada Allah)?” (Asy-Syu’araa’: 106)

Makna dasar kata takwa adalah sikap hamba yang menjaga atau memelihara dirinya dari segala bentuk keburukan dan kejahatan yang dikhawatirkan akan menimpa dirinya. Kemudian takwa mengalami spesifikasi makna menjadi sikap menjaga atau memelihara diri dari segala sesuatu yang dapat mendatangkan kemurkaan dan azab Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu, Allah adalah Ahlu at-Taqwa, yakni Dzat satu-satunya yang berhak untuk ditakuti, diagungkan, dan dimuliakan oleh hamba-hamba-Nya. Ali bin Abi Thalib mendefinisikan takwa sebagai berikut:

الْخَوْفُ مِنَ الْجَلِيْلِ، وَ الْعَمَلُ بِالتَّنْزِيْلِ، وَ الْقَنَاعَةُ بِالْقَلِيْلِ، وَ اْلاِسْتِعْدَادُ لِيَوْمِ الرَّحِيْلِ.

“Takut kepada Dzat yang Mahaagung, beramal sesuai dengan anjuran wahyu, bersikap rela atau puas terhadap rizki yang diterima walaupun jumlahnya sedikit, dan mempersiapkan diri untuk hari keberangkatan (menuju liang lahat)”

Ma’asyirul mukminin rahimakumullah ta’ala…

Sebagai orang yang beriman, sudah sepatutnya kita berusaha untuk mempelajari, mengkaji dan merenungi sifat-sifat orang bertakwa yang telah banyak disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita melalui kitab-Nya, disertai dengan doa semoga kita menjadi bagian dari mereka. di antara sifat-sifat orang bertakwa termaktub dalam permulaan surat Al- Baqarah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

(الم1 ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ2 الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ 3 وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآَخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ 4 أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ )[البقرة1: 5]

“Alif laam miin. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya. Petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung (Al-Baqarah: 1-5)

Disebutkan pula dalam surat Al-Baqarah ayat 177 bahwa orang yang bertakwa adalah mereka yang beriman kepada Allah, Hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, serta memberikan harta yang dicintainya kepada para kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan, orang-orang yang meminta-minta, dan untuk membebaskan perbudakan. Selain itu, juga mendirikan shalat, menunaikan zakat, memenuhi janjinya apabila berjanji, serta orang yang sabar ketika mengalami kesengsaraan, penderitaan, dan pada waktu terjadi peperangan.

Dalam surah Ali-Imran ayat 133-135 Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang gemar menafkahkan hartanya di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, di waktu lapang maupun sempit, dan orang yang mampu menahan amarahnya, senang memaafkan kesalahan orang lain, segera bertaubat dan memohon ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala tatkala mereka berbuat keji atau zalim terhadap dirinya atau terhadap orang lain, sembari menanamkan tekad yang bulat dalam hatinya untuk tidak akan melanjutkan atau mengulangi lagi perbuatan keji tersebut.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala…

Jika kita bersungguh-sungguh dalam menjaga dan memupuk keimanan dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya kita akan termasuk orang-orang yang beruntung dan diizinkan untuk memetik dan mencicipi buah ketakwaan. Setidaknya ada enam buah takwa yang dapat kita petik, lima buah dapat kita rasakan di kehidupan dunia ini dan satu lagi menunggu kita dikehidupan akhirat sebagai deposito ukhrawi. Kelima buah takwa tersebut telah disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam beberapa ayat, yaitu:

Pertama, kita akan memiliki “furqaan intelegence “yaitu kemampuan intelektual kita untuk membedakan antara yang haq dengan yang bathil. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ )[الأنفال: 29]

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Ia akan memberikan kepadamu ‘furqan’ (kekuatan hati yang dapat membedakan antara yang benar dan yang salah), dan Ia akan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan mengampunimu, dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al-Anfaal: 29)

Kedua, kita akan merasakan keberkahan hidup yang dihiasi oleh bunga-bunga kesenangan dan kebahagiaan serta ketenteraman. Limpahan berkah yang mengucur dari langit dan bumi menjadi milik kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

(وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ )[الأعراف: 96]

“Dan sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan keberkahan kepada mereka dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka karena sesuatu yang mereka usahakan.” (Al-A’raaf: 96)

Ketiga, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan senantiasa memberikan bimbingan dan jalan keluar dari persoalan hidup yang sedang dan yang akan kita hadapi seperti janji-Nya,

(وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا )[الطلاق: 2]

Artinya: “… Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan jalan keluar baginya.” (At-Thalaaq: 2)

Keempat, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan rezeki yang berlimpah kepada kita dengan cara yang tidak terduga dan dari jalan yang tak disangka-sangka seperti firman-Nya,

(وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ )(الطلاق:٣(

Artinya: “Dan akan memberikan rezeki kepadanya dengan cara yang tidak terduga….” (At-Thalaaq: 3)

Kelima, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan kemudahan dalam segala urusan kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

(وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا )[الطلاق: 5]

“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan kemudahan baginya (dalam menyelesaikan) urusannya.” (At-Thalaaq: 4)

Keenam, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghapus, mengampuni dosa dan kesalahan kita, serta memberikan tempat yang layak di surga yang penuh dengan kenikmatan yang tak pernah terlihat oleh mata, tak terdengar oleh telinga dan tak pernah terlintas dan terbayang dalam akal fikiran kita. Buah takwa yang satu ini akan kita petik kelak di alam akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

(وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا )[الطلاق: 5]

“… Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan melipatgandakan pahala baginya.” (At-Thalaaq: 5)

di ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

(تِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي نُورِثُ مِنْ عِبَادِنَا مَنْ كَانَ تَقِيًّا )[مريم: 63]

“Itulah surga yang kami wariskan (berikan) kepada orang yang bertakwa di antara hamba-hamba Kami.” (Maryam: 63)

بَارَكَ اللهُ لِي وَ لَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَ نَفَعَنِي وَ إِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَ تَقَبَّلَ مِنِّيْ وَ مِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

اَلْحَمْدُ ِللهِ وَ الشُّكْرُ لِلّهِ وَ لاَ حَوْلَ وَ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ. وَ الصَّلاَةُ وَ السَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ اللهِ، نَبِـيِّنَا مُحَمَّدٍ وَ عَليَ آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ مَنْ وَالاَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَريْـكَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ.

أَمَّا بَعْـدُ فَيَاأَيـُّهَا اْلإِخْوَانُ، أُوْصِيْكُمْ وَ إِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ حَقَّ تُقَاتِهِ وَ لاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَ أَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Jamaah sidang Jum’at rahimakumullah…

Para ulama Salaf telah banyak meninggalkan pesan-pesan ketakwaan kepada kita. di antara mereka ada yang berkata, “aku wasiatkan kepadamu untuk senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat yang mengetahui semua rahasiamu, Dzat yang menyertaimu di alam nyatamu, ingat dan sertakanlah Allah Subhanahu wa Ta’ala di setiap detikmu, di waktu malam dan siangmu, tumbuhkanlah rasa takutmu kepadanya sekuat kedekatannya kepadamu dan seluas kekuasannya atasmu.” Sebagian yang lain mengatakan sambil menyimpan rasa keheranan yang mendalam, “Mengapa engkau leluasa dan tega berbuat maksiat justru di kala kamu sedang menyendiri dengan Tuhanmu? Tidakkah engkau malu berbuat maksiat sedang Dia memandangimu? Mengapa kamu justru malu dilihat oleh manusia lain, bukankah mereka hanyalah sebagian makhluk ciptaan-Nya sepertimu? Adakah orang yang lebih sesat dibandingkan dengan orang yang menampakkan amal shalih di hadapan manusia, namun sebaliknya ia menantang Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menunjukkan keburukan kepada Allah yang status-Nya justru lebih dekat dari urat leher manusia?!” Karena itu, selagi nyawa masih bersemayam dalam raga, mata masih dapat melihat, telinga masih bisa mendengar, tangan masih mampu memegang dan kaki masih bergerak melangkah, marilah kita bekali hidup kita dengan iman dan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagai bekal terbaik menuju perjumpaan dengan-Nya. Dengar, simak dan renungkanlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut ini wahai hamba-hamba yang cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala!

(وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ )[البقرة: 197]

“Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan Sesungguhnya Sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal.” (Al-Baqarah: 197)

)يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ18 وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ )[الحشر: 19]

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyr: 18-19)

Marilah kita tutup pertemuan yang mulia ini dengan menundukkan jiwa dan raga kita di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala sambil berdoa ke hadirat-Nya dengan penuh kekhusukan dan pengharapan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala berkenan memasukkan kita ke dalam gerbong orang-orang bertakwa, dan memberikan kemampuan kepada kita untuk membekali diri dengan ketakwaan sampai kita berjumpa dengan-Nya.

عِبَادُ اللَّهِ! (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا )[الأحزاب: 56]

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ. وَارْضَ عَن الخُلَفَاءِ الأرْبَعَة أبُوبَكْر وَ عُمَر وَ عُثمَانَ وَ عَلِي وَ عَنْ التَّابِعِيْن وَ تاَبِعِ التَّابِعِيْن وَمَنْ تَبِعَهُم بِإحْسَانٍ إلَى يَوْمِ الدَّيْنِ وَ ارْحَمْنَا مَعَهُمْ يَا أرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَات

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَ ِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَ لاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَ إِسْرَافَنَا فِيْ أَمْرِنَا وَ ثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَ انْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ

اَللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَ التُّقَى وَ الْعَفَافَ وَ الْغِنَى

اَللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَ عَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَ السَّلاَمَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ، وَ الْغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِـرٍّ، وَ الْفَوْزَ بِالْجَنَّةِ، وَ النَّجَاةَ مِنَ النَّارِ

اَللّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَ ارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَ أَرِنَا لْبَاطِلَ بَاطِلاً وَ ارْزُقْنَا احْتِنَابَه

رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ )[البقرة: 201]

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِـزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَ سَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَ اْلحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ.

  • Kehidupan Setelah Mati
  • Waspadai Praktek Perdukunan
  • Pengaruh Takwa Terhadap Kehidupan Seorang Muslim
  • Kehidupan Akhirat Adalah Kehidupan Yang Hakiki
  • Pengaruh Dosa dan Maksiat Bagi Kehidupan Seorang Hamba
  • Muroqobatulloh dan  Istiqomah dalam Kehidupan Muslim
  • Kehidupan Surga dan Neraka
  • Tanda-tanda hari Kiamat
  • Urgensi Tauhid dalam Mewujudkan Kebahagiaan
  • Urgensi Ikhlas dalam Meraih Kemuliaan Dunia dan Akhirat
  • Ustadz DR. Dasman, MA
  • Tawakkal, Urgensi dan Kedudukannya
  • Kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
  • Cinta Kepada Allah dan Rasul-Nya  Sebagai Pilar Keimanan

Kirim Email Anda , Untuk Update Kabar Terkini

Pria/Wanita
Negara
Email